Jam menunjukkan pukul 23.47 ketika Raka menutup pintu gudang logistik tempatnya bekerja. Di jam-jam seperti ini, kota seolah mengecil: suara kendaraan menipis, lampu toko padam satu per satu, dan hanya deru pendingin ruangan yang setia menemani. Namun, ada satu “teman” yang belakangan ikut hadir di sela-sela jam istirahatnya—sebuah kebiasaan baru yang ia sebut berteman dengan rtp terkini, bukan sebagai jalan pintas, melainkan sebagai cara memahami ritme peluang dengan lebih sadar.
Raka bukan tipe pekerja malam yang mengeluh. Ia justru suka momen ketika orang lain terlelap, sementara ia bergerak rapi mengatur barang, mengecek nomor resi, memastikan stok cocok dengan catatan. Ada pola yang berulang: kerja, istirahat sebentar, lalu kerja lagi. Di sela jeda itulah ia mencari aktivitas yang tidak terlalu bising namun cukup menantang, sesuatu yang bisa “menghangatkan” fokus tanpa membuatnya lupa waktu.
Ia pernah mencoba menonton film, tapi kadang membuat kantuk datang lebih cepat. Ia juga mencoba scrolling media sosial, namun pikirannya malah terasa penuh. Sampai suatu malam ia mendengar obrolan rekan kerja tentang rtp terkini—angka yang katanya menggambarkan performa atau persentase pengembalian dalam sebuah permainan digital yang populer di kalangan pekerja shift.
Raka tidak langsung percaya. Ia tipe yang menimbang informasi seperti menimbang paket: harus jelas asalnya, harus ada konteksnya. Baginya, berteman dengan rtp terkini bukan berarti mengejar menang setiap saat, melainkan memahami bahwa sistem punya data, tren, dan momen tertentu yang sering dibicarakan orang. Ia mulai mencatat: kapan angka naik, kapan angka turun, dan bagaimana perasaannya ketika melihat perubahan itu.
Yang menarik, kebiasaan ini justru membuatnya lebih disiplin. Ia menetapkan batas waktu yang ketat di jam istirahat—misalnya 15 menit, tidak lebih. Jika alarm berbunyi, ia berhenti. Ia tidak ingin kebiasaan ini mengganggu performa kerja, apalagi membuatnya kehilangan fokus saat mengangkat barang atau mengecek dokumen.
Di ruang istirahat, Raka sering menemukan kertas struk bekas dari mesin kopi. Ia memakainya sebagai “buku harian mini”. Di situ ia menulis tanggal, jam, dan rtp terkini yang sedang ramai dibicarakan. Ia juga menulis hal yang lebih penting: kondisi dirinya saat itu. Apakah ia lelah? Apakah ia baru saja dimarahi supervisor? Apakah ia sedang senang karena target tercapai?
Dari catatan itu, ia menemukan satu hal yang jarang dibicarakan orang: rtp terkini bisa terasa “ramah” atau “dingin” tergantung mental yang membacanya. Saat emosi tidak stabil, angka setinggi apa pun tetap bisa memancing keputusan impulsif. Saat tenang, angka yang biasa saja pun tidak mengganggu; ia tetap bisa berhenti tepat waktu.
Rutinitas Raka mulai terbentuk seperti skema yang tidak lazim. Bukan skema menang-kalah, melainkan skema menjaga kendali. Ia memulai istirahat dengan minum air dulu, lalu kopi jika diperlukan. Setelah itu ia membuka satu tab saja—tab yang berisi informasi rtp terkini dari sumber yang menurutnya paling konsisten. Ia tidak membuka banyak grup, tidak membandingkan terlalu banyak angka, karena itu membuat kepalanya penuh.
Ia menyalakan alarm, mengatur napas, lalu membaca data seperti membaca jadwal pengiriman: sekilas, lalu kembali ke tugas utama. Baginya, data hanya alat bantu untuk mengukur suasana, bukan kompas hidup.
Di sela pergantian tugas, rekan-rekannya sering bertanya, “Raka, rtp terkini yang kamu lihat sekarang berapa?” Ia tidak menjawab dengan gaya pamer. Ia menjawab pelan, kadang justru balik bertanya, “Kamu istirahatnya cukup nggak hari ini?” Pertanyaan itu terdengar aneh di telinga mereka, tapi beberapa mulai paham: yang ia jaga bukan angka, melainkan kebiasaan.
Ada yang menertawakan, ada yang penasaran. Raka tidak menggurui. Ia hanya berbagi cara sederhana: batasi waktu, jangan pakai uang yang seharusnya untuk kebutuhan utama, dan jangan jadikan rtp terkini sebagai alasan untuk mengejar rasa “harus balik modal”. Ia pernah melihat sendiri bagaimana teman shift malam berubah murung karena lupa berhenti, lalu bekerja dengan mata kosong sampai pagi.
Menjelang pukul 04.10, udara mulai dingin. Raka biasanya sudah menyelesaikan sebagian besar pekerjaan. Ia duduk sebentar, memijat bahu, lalu melihat catatan kecilnya. Ia menyadari bahwa rtp terkini selalu bergerak, seperti arus jalanan yang tidak pernah benar-benar berhenti. Namun tubuh manusia tidak seperti itu; ada batas lelah, ada batas fokus, ada batas emosi.
Di jam-jam terakhir shift, ia menutup semua layar dan memilih mendengar suara gudang: bunyi roda troli, langkah sepatu, dan suara mesin yang stabil. Temannya bukan semata rtp terkini, melainkan proses mengenali kapan harus lanjut dan kapan harus berhenti, sesuatu yang justru terasa selaras dengan hidup pekerja malam—sunyi, terukur, dan penuh keputusan kecil yang menentukan esok hari.